Tampilkan postingan dengan label Bebek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Agustus 2012

Wajib Beli Spion Berlampu Sein untuk Honda?

Kejadian tak menyenangkan dialami penulis ketika membeli sebuah Honda Vario 125 PGM-Fi di sebuah dealer di Jepara bagian timur. Jarwo, sang calon pembeli diminta untuk membeli sepasang kaca spion warna silver untuk melengkapi sepeda motornya. Karena merasa tak perlu itu, dia memilih untuk tidak membelinya. Tapi sales di dealer itu dengan nada sedikit memaksa harus membelinya seharga Rp. 250.000,00 dan jika tidak membelinya spion bawaan Vario pun tidak diberikan.

Nah..? Kaca Spion ini sebenarnya kiat dari Honda untuk kampanye safety riding. Seperti diketahui Honda dalam melengkapi produknya dengan fitur safety riding tidak main-main. Misal Side Stand Switch, Parking Brake dan pelopor sein terpisah dari lampu utama di motor bebek. Akan tetapi setelah ditelusuri tidak semua dealer memberlakukan kebijakan seperti itu. 

Untuk diketahui, syukur kalau ada petinggi Honda baca tulisan ini, bahwa kualitas kaca spion berlampu sein ini bisa dibilang jelek. Yang lebih jelek adalah kualitas kabel di dalam batang spion, mudah sekali putus.

Saran saja, ada baiknya bila tiap dealer tidak mewajibkan untuk membelinya tetapi hanya sebatas pilihan variasi pabrikan. Toh langkah tersebut tidak mengurangi niat kampanye safety riding nya Honda, karena pesan sudah tersampaikan meski barang tak terbeli. Jangan sampai ini hanya proyek segelintir orang untuk meraup keuntungan dari konsumen justru di saat pemerintah menerapkan aturan DP motor baru. Uang sebesar 250 ribu bisa mendapatkan spion yang jauh lebih baik, kan?

Kamis, 03 Mei 2012

242 Kilometer Tanpa Oli?

Gila. Toyota Avanza dan Honda Revo ini dibesut tanpa oli. Iya, produk baru dari Canada bernama Lupromax ini yang memungkinkan motor melaju tanpa oli di dalam mesinnya. Bahkan penasbihan ini secara resmi dimasukkan ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) pada Minggu, 29 April 2012 di Serpong, Tangerang, Banten. 

Pengetesan tersebut bisa dibilang abnormal. Motor dan mobil yang akan diuji tentu sudah ada oli di mesinnya ditambahkan cairan Lupromax sebanyak satu botol berisi 30 ml. Kemudian kendaraan dipakai muter-muter sekitar 500 meter baru oli mesin dikuras habis sampai tetes akhir. Untuk meyakinkan rekor ini, lubang oli disegel oleh MURI.

Di tabloid Motor Plus edisi No. 688/XIII menyebutkan target awal pengetesan adalah 85 km karena rekor sebelumnya sejauh 81,9 km. Akhirnya hari itu diputuskan untuk melaju terus. Jarak yang dapat dicapai sangat fantastis. Kendaraan tanpa oli bisa berjalan sampai 242.8 km! Itu dicapai dengan waktu 7 jam 35 menit.

Ruby Widjaja CEO PT Magna Indonesia yang mempunyai produk Lupromax seperti yang disebutkan Motor Plus mengatakan mesin yang dipakai masih tetap halus dan tidak kenapa-kenapa. "Kuncinya durability Lupromax yakni adanya formula aditif Heat Activated Technology (HAT)", imbuhnya.

Rabu, 21 Maret 2012

Honda Blade Modifikasi Ayam Jago

Sejak jaman Honda Sonic masuk Indonesia saya kesengsem sama motor jenis begini. Apalagi setelah muncul Honda Nice U-Box, desainnya sederhana tapi nikmat dilihat.

Sekarang saya iseng-iseng dengan Photoshop untuk mencoba menjadikan Honda Blade ala ayam jago tanpa menghilangkan identitasnya. Ciri ayam jago adalah pemakaian shockbreaker depan model panjang seperti motor laki. Hanya mungkin ukurannya lebih kecil. Di gambar ini saya comot punya Sonic berikut kaki-kakinya. Ciri Blade yang punya lampu di dada otomatis hilang digantikan batok lampu ayam jago.

Lebih mantap untuk kaki belakang juga memakai punya Sonic. Tapi melihat konstruksi rangka aslinya Blade mungkin agak sulit jika ingin menerapkan wheelbase seperti pada gambar. Karena jarak segitu tidak mungkin jika kita pasang monoshock. Atau ada yang mau coba? Silakan, kami tunggu gambarnya.

Selain itu saya masih pakai bodi asli Blade, termasuk sayap depan dari bawah hingga atas masih asli. Hanya mungkin perlu ada penyesuaian bodi di sekitar batang shock depan.

Nah beginilah kira-kira bayangan saya untuk Blade jadi ayam jago. Ada yang mau bikn?

Korek Harian Honda Blade

Tenaga standar Honda Blade sebenarnya cukup untuk harian dan kapasitasnya yang 110 cc juga tidak terlalu pelan. Tapi yang namanya kebutuhan akan kecepatan saat digunakan jarak jauh, saya ingin Blade hitam ini lebih bertenaga di menengah ke atas tanpa mengurangi akselerasi secara signifikan.

Hal pertama yang saya lakukan adalah iseng-iseng ganti kopling ke manual. Cukup 390 ribu saya sudah bisa bawa pulang bak kopling Blade orisinal yang sudah dimodifikasi, kabel beserta tuas dan dudukannya. Saat itu masih menggunakan rumah kopling standar yang pegas matahari. Dampaknya...tarikan tuas sangat berat dan menyiksa jari kiri. Setelah konsulatasi dengan bengkel disarankan untuk ganti rumah kopling dengan punya Karisma atau Supra X 125 (HSX 125).

Saya dapat harga 400 ribu (dianter sampe bengkel, dari Jember Kudus ke Bangsri Jepara). Kondisi barang sangat bagus, terlihat di kode produksinya tertulis buatan akhir 2010. Lumayan semau bagiannya masih layak dipakai lagi tanpa harus seketika ganti kampas dan pernya. Oleh bengkel dimodifikasi sedemikian rupa supaya nemplok di Blade. Termasuk memberi lubang-lubang di pinggiran bibir rumah koplingnya untuk sirkulasi oli. Penyesuaian lain hanya ganti laher dengan yang asnya masuk di as Blade tapi lingkar luarnya sama dengan house kopling HSX 125. Sementara kopling gandanya standar dilas mati.
Tampilan standar tapi tenaga mumpuni untuk perjalanan jarak jauh.
Hasilnya kopling ringan, sayang tenaga jadi letoy. lalu pada kesempatan berikutnya saya minta ganti kampasnya dan tenaga pun sudah mulai terasa enak.

Langkah berikut sesuai permintaan saya (standar, kenceng, irit BBM, part awet) oleh bengkel diminta untuk modif noken as dan papas magnet. Ganti CDI dengan BRT Dual Band TR serta sedikit memodifikasi inlet karburator standar dan setting PJ MJ

Ada cerita tersendiri tentang CDI ini. Saya beli di toko variasi terkenal di Kudus seharga 450 ribu. Oleh penjualnya dikatakan kalau mbrebet boleh ditukar. Benar saja, suatu malam saya uji coba dengan MX standar, baru sekali tarikan (dan kalah) motor sudah mbrebet. Pagi harinya saya minta bengkel untuk cek. Hasilnya memang kendala di CDI. Akhirnya tukar deh dengan yang baru. Lumayan dapat dua sticker BRT.
Noken as sesuai dengan kebutuhan.
Daging magnet dikurangi untuk pangkas bobot.

Kekurangan lain yang masih terasa hingga tulisan ini dibuat yaitu gejala tersendat setelah buka gas penuh, tutup gas dan muncul saat mau buka gas lagi. Terasa saat kecepatan tinggi, hingga lumayan capek mengendalikannya. Gejala sedikit berkurang setelah leher knalpot saya ganti dengan lekukan yang lebih sedikit (standar blade terlalu banyak lekukan).

Sekarang Blade hitam ini sudah cukup memenuhi permintaan. Saya pake jarak jauh juga tidak terlalu memalukan. Masih bisa selap-selip MX dan Supra X 125 standar. Suara juga adem karena silencer standar dan tidak takut hujan karena filter karburator masih terpasang hanya modifikasi kertas filternya ganti dengan standarnya Honda Grand yang berbahan busa.

Untuk busi juga masih mengandalkan busi standar. Pernah saya coba TDR Balistic 065, gejala nyendat-nyendat tadi lebih terasa. 

Konsekuensi yang harus diterima dengan ubahan seperti ini adalah cepat rusaknya komponen lain yang masih standar karena tenaga motor sudah meningkat. Seperti contohnya per klep, klep dan roller rantai kamprat. Sejauh ini saya sudah ganti klep buang karena sudah tidak lurus. Masalahnya ada di terlalu lemahnya per standar jika dipasang di mesin yang sudah dimodifikasi. Lalu per standar yang tanpa per kecil di dalamnya ini ditambah per kecil milik Honda Supra X 100. Ada yang menyarankan pakai punya Smash.

Roller kamprat paling apes. Dia aus parah sehingga bukaan klep tidak teratur yang berakibat motor ngebul di knalpot akibat oli ikut terbakar. Lalu oleh bengkel kamprat dibuatkan setelan di bawah crankase dengan membubutnya dan ditancapkan sebuah baut.

Tenaga besar, roller kamprat kalah.
Pasang kopling manual.







Piston standar.

Trial error beberapa kali.



Knalpot standar ganti leher dengan pipa berbahan besi.

Cop busi aftermarket ditambah 9power
Saklar on/off CDI BRT Dual Band TR, enak pas di posisi ON.

Sudah memenuhi kebutuhan.

Minggu, 06 November 2011

Kopling Manual Lebih Ringan

Honda Blade saat ini sedang getol dioprek terutama setelah Yamaha dengan Jupiter seriesnya sekian lama mendominasi balap underbone Indonesia. Di kelas 110 cc Jupiter belum goyah meski sempat dipepet Kawasaki yang digarap Ibnu Sambodo. Honda Blade disebut-sebut sebagai yang akan menyalip Jupiter di balapan.

Di balap nasional, dari beberapa referensi yang penulis baca, kebanyakan Blade lemah di jenis rumah koplingnya. Originalnya Blade memakai pegas diafragma yang berbentuk seperti mangkuk matahari. Secara produksi massal tipe seperti ini memang (katanya) bisa memangkas biaya produksi dan meringankan perawatan konsumen karena memiliki ketahanan kampas yang lebih lama dibanding dengan model per. Akan tetapi di kebutuhan untuk balap yang membutuhkan transfer tenaga maksimal dari ruang bakar ke roda, banyak yang menggantinya dengan rumah kopling komplit dengan kampas dan per milik Honda Karisma.

Kopling set Karisma memiliki 6 pegas per sebagai penekan kampas. Jika dibanding pegas diafragma per 6 ini diyakini memiliki kekuatan lebih. Lagipula jika Blade yang aslinya kopling otomatis mau diubah ke manual sebaiknya mengganti kopling set seperti Karisma. Pertimbangannya selain lebih kuat, tenaga yang dihasilkan akan lebih responsif. Selain itu kopling manual tidak akan berat seperti jika manual dengan pegas diafragma. Pengalaman penulis yang pasang kopling manual di Blade yagn belum ganti kopling set Karisma terasa sangat berat, Bayangkan jika untuk balap tetapi kopling berat di jari, bisa mengurangi konsentrasi pembalap pastinya.

Satu set kopling Honda Karisma cocok dipasang di Honda Blade, lebih responsif dan ringan untuk kopling manual


Senin, 08 Agustus 2011

Sepeda Motor Baru - Honda New Blade 110R



Sekelebat motor ini seperti Yamaha New Jupiter Z. Tapi kok ada logo sayapnya? Ternyata betul apa yang dimuat di Tabloid Motor Plus beberapa edisi lalu tentang bebek baru Honda. Tampaknya ini strategi baru Honda untuk menyabet Yamaha New Jupiter Z yang bagi kebanyakan konsumen menurut saya cukup tidak mendapat tempat di hati. Kecuali bagi mereka yang fanatik Yamaha.

Di Motor Plus Edisi 649/XII jagoan Honda ini digeber habis. Secara desain menurutnya tampilan New Blade benar-benar baru. Seperti headlamp yang dulunya di dada sekarang dikembalikan ke batok stang. Menurut info dari orang dalam Honda ini menuruti keinginan konsumen yang lebih suka posisi headlamp seperti ini. Inilah faktor terbesar yang menjadikan Jupiter Z dan Blade jadi seperti kakak adik. Sangat berbeda dengan pendahulunya, kepala New Blade ini jauh lebih gembrot.

Sayap dan dada New Blade juga berdesain baru meski sekilas lebih mirip sayap Honda Vario CBS Techno. Di situ ditanam lampu sein yang sangat panjang menjadikan dada Blade sepeda motor ini tampak membusung. Sangat Jauh beda dengan Blade versi pertama. Spatbor sendiri dikembalikan kodratnya ditempatkan di segitiga bawah seperti sepeda motor bebek secara umum.

Pembeda paling sip dan berpengaruh sebagai faktor penggebuk Yamaha dengan Jupiter Z nya adalah penambahan piranti penahan laju kendaraan belakang yang sudah menerapkan sistem disc brake.

Masih bersumber dari Motor Plus, kenyamanan berkendara khas Honda benar-benar diperhatikan di Honda New Blade ini. Seperti pemasangan pelindung kaki dari panas blok mesin sebelah kanan yang terbuat dari plastik. Selain itu detirapkan juga footstep fleksibel yang bisa menyesuaikan sudutnya ketika diajak rebah dan terpaksa footstep berciuman dengan aspal.

Secara umum, mungkin bagi beberapa orang motor ini hasil contekan dari Yamaha New Jupiter Z, tetapi sumber dari Motor Plus yang meneruskan keterangan dari petinggi Honda yang menyebutkan bahwa ini sudah melalui kajian dari perwakilan beberapa negara Asean dan Jepang. Yang pasti persaingan penjualan sepeda motor di Indonesia tetap panas dan tiap pabrikan sepeda motor punya senjata masing-masing di tiap periodenya. Hal ini sudah selayaknya diimbangi dengan perilaku di jalan yang menghormati sesama pengendara dan semoga pemerintah segera mendapat ide untuk memecah persoalan transportasi di tanah air.

Selasa, 02 Agustus 2011

New Honda Blade dan New Yamaha Jupiter Z

Minggu ini PT AHM sebagai ATPM sepeda motor Honda merilis Honda Blade terbaru. Di milis, website Honda, ataupun website otomotif lainnya banyak yang berdebat tentang desain motor ini. Pertama karena desain batok lampu di stang sekilas sangat mirip dengan pesaingnya terdahulu, Yamaha New Jupiter Z. Sama-sama mengusung dual light, Blade memiliki desain yang lebih runcing hingga tampak seperti paruh dari samping tetapi sekali lagi sangat mirip Jupiter Z jika dilihat dari depan. Ada satu komentar yang menyebut, Jupiter Z tidak begitu ramai di pasaran karena bentuknya yang seperti alien, justru malah dicontek oleh kompetitornya. Mungkin ada benarnya, di beberapa diskusi saya juga banyak yang sepakat mengenai hal itu.

Perhatian kedua saya ada di sektor dada tempat lampu sein dan plat nomor. Dilihat dari samping atau depan semua sepakat Blade sebelas dua belas dengan Honda Vario Techno. Dari dada atas sampai sayap, semua sangat mirip. Lampu sein sangat panjang dari ujung depan hingga belakang dengan aksen kuning sesuai peruntukan fungsi lampu sein. Jika Jupiter Z dadanya justru lebih mirip mona-mona yang sempat beredar di tanah air, Blade ini tampak lebih sporty dan anggun. Kemiripan Blade dengan Vario Techno berlanjut hingga fender atau spatbor depan dan buntut termasuk beberapa pilihan warnanya.

Dari sisi mesin mungking belum saatnya dibahas karena belum sempat mencoba. Tetapi melihat desain knalpotnya, banyak setuju kalau ini knalpot yang berdesain sangat bagus. Menurut saya justru sangat jelek dan tidak serasi dengan desain bodi keseluruhan. Mungkin satu-satunya kesamaan konyolnya desain Blade dan Jupiter Z terbaru ini ada di desain knalpot yang seperti lelucon.



Jumat, 14 Januari 2011

Honda Revo AT



Honda meluncurkan salah satu motor yang paling canggih saat ini sekaligus praktis dan nyaman. Motor yang digadang-gadang akan menjadi tren baru di dunia sepeda motor tanah air. Honda menamakannya Honda Revo AT.

Dari namanya bisa kita lihat ini bukan Honda Revo biasa. Dari nama belakangnya bisa ditebak kalau motor ini bertransmisi otomatis layaknya Honda Vario ata Honda Beat yang lebih dulu muncul. Tetapi apa bedanya?

Honda Revo AT dipasangi teknologi yang oleh Honda dinamai Continuous Variable Automatic (CV-matic) yang merupakan pertama kalinya diterapkan di Indonesia. Honda Revo AT diperkuat mesin 4-tak berkapasitas 110 cc berteknologi EFT (Efficient & Low Friction Technology). EFT bertugas untuk meminimalkan gesekan antar komponen di dalam mesin sehingga akan lebih awet selain tentunya dengan perawatan yang sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Honda.

Mesin Revo AT yang juga menjadi unggulan adalah pengabut bahan bakar dengan sistem injeksi generasi ketiga dengan penambahan sensor O2 dan catalytic converter. Dengan ini mesin akan lebih optimal bekerja dan tahan lama, bahan bakar lebih hemat dan emisi gas buang yang rendah serta memenuhi standar Euro2.

Motor terbaru PT. AHM ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki motor lain, yaitu sistem pendinginan ganda. Yang pertama adalah pendinginan udada untuk CVT yang diposisikan di atas sehingga aman dari genangan air jika harus menerjang banjir.

Johannes Loman, Executive Vice President Director PT AHM mengatakan, Honda Revo AT ini mengedepankan konsep berkendara bebek dengan tuas rem kanan untuk rem depan sedangkan untuk rem belakang tetap mengadopsi sistem bebek yang menempatkan tuas rem belakangnya di kaki kanan. Secara kepraktisan bisa dibilang motor ini kurang. Jika Johannes Loman beralasan ini menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat yang telah lama mengendarai bebek dirasa kurang tepat. Karena riwayat motor matik (skubek) di Indonesia sudah cukup lama dan penjualannya sangat booming sehingga masyarakat pun sudah terbiasa dengan rem belakang di tangan kiri, ada baiknya Honda merevisi posisi tuas tersebut.


Fitur lain yang bisa diandalkan dari bebek matik ini antara lain sudah diterapkan di motor matik Honda lain, yaitu side stand switch yang memungkinkan mesin akan mati secara otomatis jika standar samping berfungsi atau dibuka. Selain itu juga dilengkapi brake lock yang terletak di sebelah kiri bawah dekat tangan pengemudi sebelah kiri sehingga mempermudah jangkauan. Fungsinya ialah seperti rem tangan pada kendaraan roda empat.

Pembaruan fitur lain juga rupanya diupayakan oleh Honda sebagai salah satu produsen terbesar di Indonesia denga menerapkan glow in the dark untuk kunci kontaknya. Triknya yaitu dengan menambahkan bahan fosfor di seputaran lubang kunci. Sedangkan untuk bagasi, Honda melengkapinya dengan kapasitas 6 liter di bawah jok.

Secara umum Honda Revo AT ini merupakan sebuah terobosan baru untuk pasar sepeda motor di Indonesia. Hanya saja secara desain, penempatan tuas rem belakang di kaki kanan pengendara terasa tanggung dan kurang seimbang jika dilihat tampak depan meski keseluruhan bodi Revo otomatis ini terlihat futuristis.