Tampilkan postingan dengan label Road Bike. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Road Bike. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2012

Honda CB150R Streetfire, Area Mesin yang Nyenengke

Honda CB150R tampak kompak dengan segala komponen yang mengkomposisi area engine (foto dari Motor Plus)

Nyenengke, itu yang cuma bisa TPblog bilang kalau lihat sekilas area mesin keluaran Honda terbaru, CB150 R Streetfire. Dengan sasis tubular alias teralis dan terkesan ribet, motor ini jadi kelihatan lebih laki. Tidak terlalu mulus dengan mesin yang terlihat simple. 

Memang antara simple dan tampak ribet adalah selera tiap individu. Ada yang suka mesin terlihat rapi yang cuma kelihatan gelondongan saja atau ada juga yang suka mesin tampak ribet penuh dengan komponen-komponen pendukung seperti lekuk selang radiator, rangka, kabel ini itu atau bahkan kick-starter. Dari beberapa rekan TPblog mengaku suka style ribet dan terkesan "sibuk" serta padat.

Bagaimana pendapat sampeyan....?

TPblog

Minggu, 12 Agustus 2012

Suzuki Inazuma, Jakarta 46 Juta On The Road


Penggemar touring! Nih Suzuki sudah buka inden Suzuki Inazuma 250. Di Jakarta motor SOHC berkapasitas bersih 248 cc dua silinder ini dibuka di angka 46 juta rupiah (on the road). Ada dua piluhan warna yang disediakan yaitu candy cardinal red dan pearl nebular black. Harga ini lebih mahal daripada Honda CBR 250 R non ABS yang dijual 40,5 juta rupiah, terpaut sedikit dengan versi ABS yang dilepas 47,15 juta.

Kelebihan Inazuma 250 adalah dapur pacu yang sudah 2 silinder. Sedangkan dari segi tampilan dan impresi berkendara, Inazuma berbeda dengan Ninja dan CBR. Inazuma mengambil segmen non fairing dan cenderung ke touring jarak jauh. Bisa terlihat dari desain jok yang menyatu dengan pembonceng serta desain bodi yang mencari kenyamanan. 

Syarat inden cukup sediakan 2 juta rupiah dan fotokopi KTP. Tetapi pihak PT SIS belum mengeluarkan pernyataan kapan unit Inazuma sampai di tangan konsumen. Pendaftaran inden hanya bisa di lakukan di dealer atau cabang yang sudah mendukung sistem injeksi. Monggo.....

Minggu, 05 Agustus 2012

Wajib Beli Spion Berlampu Sein untuk Honda?

Kejadian tak menyenangkan dialami penulis ketika membeli sebuah Honda Vario 125 PGM-Fi di sebuah dealer di Jepara bagian timur. Jarwo, sang calon pembeli diminta untuk membeli sepasang kaca spion warna silver untuk melengkapi sepeda motornya. Karena merasa tak perlu itu, dia memilih untuk tidak membelinya. Tapi sales di dealer itu dengan nada sedikit memaksa harus membelinya seharga Rp. 250.000,00 dan jika tidak membelinya spion bawaan Vario pun tidak diberikan.

Nah..? Kaca Spion ini sebenarnya kiat dari Honda untuk kampanye safety riding. Seperti diketahui Honda dalam melengkapi produknya dengan fitur safety riding tidak main-main. Misal Side Stand Switch, Parking Brake dan pelopor sein terpisah dari lampu utama di motor bebek. Akan tetapi setelah ditelusuri tidak semua dealer memberlakukan kebijakan seperti itu. 

Untuk diketahui, syukur kalau ada petinggi Honda baca tulisan ini, bahwa kualitas kaca spion berlampu sein ini bisa dibilang jelek. Yang lebih jelek adalah kualitas kabel di dalam batang spion, mudah sekali putus.

Saran saja, ada baiknya bila tiap dealer tidak mewajibkan untuk membelinya tetapi hanya sebatas pilihan variasi pabrikan. Toh langkah tersebut tidak mengurangi niat kampanye safety riding nya Honda, karena pesan sudah tersampaikan meski barang tak terbeli. Jangan sampai ini hanya proyek segelintir orang untuk meraup keuntungan dari konsumen justru di saat pemerintah menerapkan aturan DP motor baru. Uang sebesar 250 ribu bisa mendapatkan spion yang jauh lebih baik, kan?

Senin, 02 April 2012

Bajaj Pulsar 200NS



  • Lawan Berat Honda Tiger dan Scorpio
Produsen Bajaj untuk pasar otomotif India sudah menelurkan produk barunya yang bergenre telanjang alias naked. Motor baru itu berngaran Bajaj Pulsar 200NS yang kebanyakan materialnya sama persis dengan KTM Duke 200NS. Tetapi melihat pasar di negara berkembang serta situasi ekonomi sepertinya Bajaj sengaja melakukan substitusi di beberapa komponen untuk mengurangi biaya produksi.

Bajaj memiliki 39.26% saham KTM yang memungkinkan silang teknologi antar dua pabrikan ini bisa terjadi. Seperti halnya pabrikan mobil top dunia, dua merek beda negara ini menempatkan KTM di kelas premium sedangkan Bajaj untuk kelas yang lebih terjangkau.

Mesin Bajaj Pulsar 200NS sama halnya dengan KTM Duke 200 berbekal 199.5 cc isi silinder (bore 72mm x stroke 49mm) dan enam percepatan. Informasi dari Bajaj kedua tipe motor ini diproduksi di pabrik yang sama di India.

Ada sedikit perbedaan di mesin du motor ini. Jika KTM mengusung DOHC dengan pengabut injeksi, Pulsar ini dibekali SOHC dengan pencampur bahan bakar karburator. Perbedaan mencolok tentu saja pemakaian tiga busi sekaligus di Pulsar 200NS dibanding satu busi yang menancap di KTM.

Bicara mengenai tenaga yang dihasilkan Bajaj Pulsar 200NS diklaim bisa meraih 23,1 PS / 9500 RPM selisih sedikit dengan KTM Duke 200 yang menyemburkan tenaga sebesar 24,7 PS / 10.000 RPM. Bila kita lihat daya Pulsar sebesar itu, Honda Tiger yang bervolume silinder sama diklaim punya daya maksimum 16,7 PS / 8.500 RPM. Untuk torsi Pulsar berada di kisaran 13,5 ft-lb / 8000 RPM sedangkan Duke di angka 14 ft-lb / 8000 RPM.


Dari segi tampilan semua pasti sudah tahu desain Duke 200 yang ringkas dan sama persisi dengan KTM Duke 125. Bajaj sendiri konsisten dengan desain yang selama ini diusungnya dengan tangki yang lebih besar serta model headlamp dan lampu belakang yang setia trademarknya Bajaj. Meski begitu untuk kaki-kaki Pulsar sudah memakai monoshock untuk belakang. Shock depan mungkin demi tekan harga, Bajaj tidak memakai upside down.

Secara keseluruhan desain ini sangat India dengan ciri lampu besar dan jok tinggi. Honda dengan Tigernya patut berancang-ancang dengan kehadiran Pulsar ini apalagi revolusi desain sepeda motor di Indonesia bisa dikatakan melesat. Bison dan Scorpio juga cukup terancam dengan kehadiran motor pabrikan India ini. 

sumber: Bajaj, Astra-Honda, berbagai sumber

Rabu, 21 Maret 2012

Honda Blade Modifikasi Ayam Jago

Sejak jaman Honda Sonic masuk Indonesia saya kesengsem sama motor jenis begini. Apalagi setelah muncul Honda Nice U-Box, desainnya sederhana tapi nikmat dilihat.

Sekarang saya iseng-iseng dengan Photoshop untuk mencoba menjadikan Honda Blade ala ayam jago tanpa menghilangkan identitasnya. Ciri ayam jago adalah pemakaian shockbreaker depan model panjang seperti motor laki. Hanya mungkin ukurannya lebih kecil. Di gambar ini saya comot punya Sonic berikut kaki-kakinya. Ciri Blade yang punya lampu di dada otomatis hilang digantikan batok lampu ayam jago.

Lebih mantap untuk kaki belakang juga memakai punya Sonic. Tapi melihat konstruksi rangka aslinya Blade mungkin agak sulit jika ingin menerapkan wheelbase seperti pada gambar. Karena jarak segitu tidak mungkin jika kita pasang monoshock. Atau ada yang mau coba? Silakan, kami tunggu gambarnya.

Selain itu saya masih pakai bodi asli Blade, termasuk sayap depan dari bawah hingga atas masih asli. Hanya mungkin perlu ada penyesuaian bodi di sekitar batang shock depan.

Nah beginilah kira-kira bayangan saya untuk Blade jadi ayam jago. Ada yang mau bikn?

Korek Harian Honda Blade

Tenaga standar Honda Blade sebenarnya cukup untuk harian dan kapasitasnya yang 110 cc juga tidak terlalu pelan. Tapi yang namanya kebutuhan akan kecepatan saat digunakan jarak jauh, saya ingin Blade hitam ini lebih bertenaga di menengah ke atas tanpa mengurangi akselerasi secara signifikan.

Hal pertama yang saya lakukan adalah iseng-iseng ganti kopling ke manual. Cukup 390 ribu saya sudah bisa bawa pulang bak kopling Blade orisinal yang sudah dimodifikasi, kabel beserta tuas dan dudukannya. Saat itu masih menggunakan rumah kopling standar yang pegas matahari. Dampaknya...tarikan tuas sangat berat dan menyiksa jari kiri. Setelah konsulatasi dengan bengkel disarankan untuk ganti rumah kopling dengan punya Karisma atau Supra X 125 (HSX 125).

Saya dapat harga 400 ribu (dianter sampe bengkel, dari Jember Kudus ke Bangsri Jepara). Kondisi barang sangat bagus, terlihat di kode produksinya tertulis buatan akhir 2010. Lumayan semau bagiannya masih layak dipakai lagi tanpa harus seketika ganti kampas dan pernya. Oleh bengkel dimodifikasi sedemikian rupa supaya nemplok di Blade. Termasuk memberi lubang-lubang di pinggiran bibir rumah koplingnya untuk sirkulasi oli. Penyesuaian lain hanya ganti laher dengan yang asnya masuk di as Blade tapi lingkar luarnya sama dengan house kopling HSX 125. Sementara kopling gandanya standar dilas mati.
Tampilan standar tapi tenaga mumpuni untuk perjalanan jarak jauh.
Hasilnya kopling ringan, sayang tenaga jadi letoy. lalu pada kesempatan berikutnya saya minta ganti kampasnya dan tenaga pun sudah mulai terasa enak.

Langkah berikut sesuai permintaan saya (standar, kenceng, irit BBM, part awet) oleh bengkel diminta untuk modif noken as dan papas magnet. Ganti CDI dengan BRT Dual Band TR serta sedikit memodifikasi inlet karburator standar dan setting PJ MJ

Ada cerita tersendiri tentang CDI ini. Saya beli di toko variasi terkenal di Kudus seharga 450 ribu. Oleh penjualnya dikatakan kalau mbrebet boleh ditukar. Benar saja, suatu malam saya uji coba dengan MX standar, baru sekali tarikan (dan kalah) motor sudah mbrebet. Pagi harinya saya minta bengkel untuk cek. Hasilnya memang kendala di CDI. Akhirnya tukar deh dengan yang baru. Lumayan dapat dua sticker BRT.
Noken as sesuai dengan kebutuhan.
Daging magnet dikurangi untuk pangkas bobot.

Kekurangan lain yang masih terasa hingga tulisan ini dibuat yaitu gejala tersendat setelah buka gas penuh, tutup gas dan muncul saat mau buka gas lagi. Terasa saat kecepatan tinggi, hingga lumayan capek mengendalikannya. Gejala sedikit berkurang setelah leher knalpot saya ganti dengan lekukan yang lebih sedikit (standar blade terlalu banyak lekukan).

Sekarang Blade hitam ini sudah cukup memenuhi permintaan. Saya pake jarak jauh juga tidak terlalu memalukan. Masih bisa selap-selip MX dan Supra X 125 standar. Suara juga adem karena silencer standar dan tidak takut hujan karena filter karburator masih terpasang hanya modifikasi kertas filternya ganti dengan standarnya Honda Grand yang berbahan busa.

Untuk busi juga masih mengandalkan busi standar. Pernah saya coba TDR Balistic 065, gejala nyendat-nyendat tadi lebih terasa. 

Konsekuensi yang harus diterima dengan ubahan seperti ini adalah cepat rusaknya komponen lain yang masih standar karena tenaga motor sudah meningkat. Seperti contohnya per klep, klep dan roller rantai kamprat. Sejauh ini saya sudah ganti klep buang karena sudah tidak lurus. Masalahnya ada di terlalu lemahnya per standar jika dipasang di mesin yang sudah dimodifikasi. Lalu per standar yang tanpa per kecil di dalamnya ini ditambah per kecil milik Honda Supra X 100. Ada yang menyarankan pakai punya Smash.

Roller kamprat paling apes. Dia aus parah sehingga bukaan klep tidak teratur yang berakibat motor ngebul di knalpot akibat oli ikut terbakar. Lalu oleh bengkel kamprat dibuatkan setelan di bawah crankase dengan membubutnya dan ditancapkan sebuah baut.

Tenaga besar, roller kamprat kalah.
Pasang kopling manual.







Piston standar.

Trial error beberapa kali.



Knalpot standar ganti leher dengan pipa berbahan besi.

Cop busi aftermarket ditambah 9power
Saklar on/off CDI BRT Dual Band TR, enak pas di posisi ON.

Sudah memenuhi kebutuhan.