Tampilkan postingan dengan label sport. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sport. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

Rossi Kembali Ke Yamaha

Pasti. Legenda 9 kali juara dunia asal Italia yang nyleneh, Valentino Rossi bernostalgia dengan tim lamanya Yamaha di Moto GP. Setelah mencari info seputar kebenaran kabar ini, penulis langsung bertanya pada satu hal. Apakah paddock Lorenzo dan Rossi tetap akan dipisah seperti dulu? Hahaha, pertanyaan yang wajar karena bisa dibilang sebelum Rossi pindah ke Ducati, Yamaha seperti punya matahari kembar di timnya sehingga untuk setting motor pun harus dipisah. Rossi menandatangani kontrak selam dua tahun mulai kompetisi 2013, sama dengan kontrak Lorenzo. Lin Jarvis, managing director Yamaha Racing langsung yang mengumumkan pindahnya Rossi. 

Valentino Rossi mengalami musim yang buruk dengan Ducati sejak kepindahannya pada 2011. Dari kelebihan tenaga motor sampai kesulitan menikung semua sudah diperbaiki Rossi dan tim. Hingga secara frontal musim kemarin Rossi meminta Ducati untuk keluar dari pakemnya dalam hal rangka, Jika biasanya Ducati konsisten dengan rangka tubular, Rossi menginginkan rangka deltabox disematkan untuk menggendong mesin. Alasannya tetap agar Desmodesici mudah dikendalikan.

Kembalinya Rossi tak hanya dirayakan tim balapnya, tetapi seluruh penggemar Rossi yang rindu akan tayangan Moto GP yang seru dan menghibur. Khusus di Indonesia yang merupakan pasar Yamaha terbesar di dunia kembalinya Rossi seperti durian runtuh. Dari sisi marketing, Lorenzo menurut pendapat penulis masih kurang moncer dibanding nama Valentino Rossi. Ini akan jadi senjata YIMM untuk bersaing dengan Honda dan Kawasaki (Suzuki masih tidur, Bajaj merangkak, TVS tertatih dll). Kita tentu ingat bagaimana saat Rossi selama tujuh tahun di Yamaha, penjualan motor Yamaha di Indonesia mencatat rekor dengan menyalip Honda!

Sekarang kita lihat saja tahun depan apakah dengan usia 33 tahun Rossi masih tajam kukunya di aspal panas Moto GP? Dengan mundurnya Stoner dari dunia balap maka saingan Rossi terbesar datang justru dari kamar sebelah alias Jorge Lorenzo. Yamaha yang dibangun Rossi dulu kini disempurnakan oleh Lorenzo. Selain dia ada pula Pedrosa yang meski kurang stabil dalam penampilannya tetapi tetap selalu berada di baris terdepan. Sementara mantan juara dunia lain Nicky Hayden sampai sekarang masih memiliki masalah yang sama dengan Rossi di Ducati. Seru lagi?

Minggu, 05 Agustus 2012

Kawasaki KLX 200?

Wah, di beberapa blog ada kabar KMI akan menelurkan KLX berisi 200 cc. Ini mungkin untuk menjawab tantangan dari biker KLX 150 S yang sedikit mengeluhkan ukuran yang katanya pas untuk orang Indonesia namun kenyataannya banyak yang suka mengganti ring roda dengan yang lebih tinggi. Selain itu ada keluhan pula tenaga dan beberapa komponen mesin KLX 150 S kurang tahan lama untuk berpetualang ekstrim. Bagian kopling paling seriing dikeluhkan.

Jika benar ini memang sangat realistis mengingat KLX 250 maupu D-Tracker 250 harganya selangit di atas 30 juta. Ini seperti langkah Honda yang katanya akan mengeluarkan motor 150 cc bermesin CBR 15 R dan rangka tubular yang mengambil segmen harga di antara Mega Pro dan Tiger. Harapan biker akan dituruti di KLX 200 ini. Dengan mesin sedikit lebih besar, ada kemungkinan motor ini pakai ring 18" di roda belakang dan 21" di depan.  Dengan begitu jarak tanah ke jok pun meningkat. Entah akan diambilkan dari mesin motor apa ini KLX 200. Mengingat di Kawasaki pusat sana adanya 140 cc (dipakai KLX 150 S) dan di atasnya ada 250 cc. Mungkin ini benarr-benar varian baru hanya saja brother semua tak akan mengetahuinya dari website manapun karena bisa jadi Indonesia sekali lagi ditunjuk sebagai yang pertama untuk perilisnya seperti Ninja 250 kemarin.

Pantas ditunggu.

Senin, 07 Februari 2011

Pilih Knalpot untuk Kawasaki Ninja 250R - Impor

Knalpot untuk Kawasaki Ninja 250R sudah sangat beragam, dari yang lokal hingga yang impor. Untuk knalpot lokal tulisan terdahulu sudah penulis wakilkan pada merk R9 dan CLD. Pada dasarnya knalpot untuk kebutuhan pemakai Baby Ninja biasanya jika tidak untuk fashion semata juga ada yang memang mengejar performa power dan kecepatan.

Terdapat dua jenis yang beredar. Salah satunya adalah produk variasi yang hanya menyertakan silincernya saja, atau biasa disebut slip on. Pemakai tinggal lepas silincer orisinal dan ganti dengan yang variasi. Kenaikan tenaganya tentu tidak terlalu besar, mungkin hanya sekitar 1,5 dk. Biasanya terdapat banyak pilihan suara, karena kebanyakan konsumen memang hanya bertujuan untuk fashion semata. 

Sedikit berbeda dengan knalpot variasi yang full system, terdiri dari silencer dan header. Kenaikan tenaganya bisa mencapai 4-5 dk. Produk Two Brothers misalnya, header sendiri bisa menyumbang tenaga sebesar 2,5 dk.

Bicara soal merk, buatan Jepang tersedia merk Moriwaki, Yoshimura, K. Factory Diablo, dan Naser Beet Evo. Mereka menyediakan baik versi slip on dan full system dan bermain di kisaran harga 6 hingga 12 jutaan. Slovenia juga menyumbang merk. Merk ini cukup terkenal, Akrapovic yang berlambang seperti kalajengking. Dia hanya menjual versi slip on. Untuk tipe carbon mereka jual seharga 6 jutaan sedangkan untuk yang berbahan titanium dibanderol 5,5 jutaan.

Negerinya Napoleon, Perancis juga punya merk untuk knalpot variasi Ninja kecil, namanya serem, Devil. tipe carbon full system dijual seharga 7 jutaan rupiah. Buatan Eropa lainnya ada Remus dan Leo Vince SBK. Seperti merk eropa lainnya Remus menyediakan versi slip on di rentang harga 5,3 - 5,7 jutaan. Merk Leo punya tipe full system dijual Rp. 6,5-7 jutaan. (sumber: Motor Plus 623/XI)

Semua tergantung kebutuhan, jika hanya mengejar fashion lebih baik memakai yang punya karakter suara yang lebih lembut agar bisa lebih damai didengar di jalanan. Namun seiring maraknya OMR Ninja 250R patut memilih yang bisa menghasilkan power lebih. Akan memalukan jika tampilan racing habis tetapi tenaga loyo.

Minggu, 06 Februari 2011

Pilih Knalpot untuk Kawasaki Ninja 250R - CLD

Pada tulisan sebelumnya penulis membeberkan sedikit informasi mengenai knalpot aftermarket untuk Kawasaki Ninja 250R merk R9 (Racing Generation) yang dijuragani oleh Sjafrie Ganie alias Jerry. Selain itu ada juga merk CLD (Champion Leader Development) yang dipimpin oleh Dodo Julianto.

CLD juga menawarkan banyak tipe untuk line-up knalpot Ninja 250R. "Setidaknya ada 7 pilihan model, baik itu menurut bahan silincernya atau ukurannya." jelas Dodo seperti yang ditulis oleh tabloid Motor Plus edisi minggu pertama Februari 2011.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan knalpot CLD masih impor tetapi proses pembuatannya di Tanah Air. Dari segi performa, sudah banyak tim balap yang menggunakan produknya, terutama tipe Monster Carbon. Menurut Dodo peningkatan powernya bisa mencapai 5 dk. Masih menurut Dodo, dengan tidak sedikitnya tim balap yang memakai produknya, membuktikan produk lokal bisa bersaing dengan serbuan knalpot buatan luar negeri. Bravo industri nasional!!!

Pilih Knalpot untuk Kawasaki Ninja 250R - R9

Salah satu cara untuk mendongkrak tenaga Kawasaki Ninja 250R adalah dengan mengganti knalpot standarnya dengan produk aftermarket atau biasa disebut knalpot racing. Untuk Ninja jenis ini memang sedang booming dan terdapat banyak sekali pilihan di pasaran. Motor Plus sebagai salah satu tabloid sepeda motor terbesar di tanah air juga berpendapat sama, seperti yang ditulis pada edisi 623/XI Februari 2011 halaman 11.

Knalpot Ninja variasi selain berfungsi mempercantik tongkrongan juga dapat meningkatkan performa. Salah satu merk yang terkenal, R9 memiliki banyak tipe, mulai dari yang berharga Rp 2,2 - 5,5 juta. Menurut sumber Motor Plus, Jerry (panggilan akrab Sjafrie Ganie, juragan R9), "Power yang dihasilkan mencapai 1,6-3,8 dk,".

Jerry yang sebentar lagi meluncurkan knalpot full titanium mengatakan saat ini beredar 6 pilihan knalpot yang terbuat dari bahan stainless steel. "Tipe Mugello Rp. 2,4 juta, New Mugello Rp. 4,2 juta, Blue Monza Rp.3,2 juta, Mugello NG Rp 3,2 juta, Motegi Rp 2,6 juta dan New Monza Rp 4,6 juta." jelas Jerry yang produknya sudah mulai laris manis ini.

Minggu, 07 November 2010

Honda CBR 250 R

Honda sepertinya sadar ada salah satu bagian kue yang hanya dimakan oleh beberapa pabrikan lain untuk sepeda motor premium 250 cc. Kawasaki sudah memakan ceruk itu selama hampir 3 tahun dengan Ninja 250, KLX 250 dan D-Tracker 250. Ditambah pula serangan dari Megelli dengan tiga senjata 250 cc-nya. Lebih lama lagi ada Suzuki Thunder 250 yang muncul sekitar tahun 2000-an. Namun sayang, penjualannya kurang sukses. Juga ada beberapa motor non Jepang lain yang bermain di 250 cc.

Penulis sudah mengendus sejak sebulan yang lalu tentang kehadiran motor bersilinder tunggal ini. Tetapi kabar baik selanjutnya belum terdengar lagi sejak tabloid Motor Plus membuatnya jadi cover di edisi 610/XI yang terbit 3-9 November 2010. Memang motor yang oleh penulis di Motor Plus itu dibilang karakter mesinnya mirip motor SE yang mempunyai spek diameter x stroke 76 mm x 55 mm. Tipikalnya mirip Honda CRF250 yang berjenis motocross, putaran mesin cepat naik.

Motor Plus menulis bahwa tenaga puncak CBR 250 adalah 19,42 kW (26 HP) pada 8.500 rpm dengan torsi maksimal 22,9 Nm pada 7.000 rpm. Sebgai perbandingan, Ninja memiliki power 31,4 HP pada 11.000 rpm.

Dikabarkan CBR 250 R sudah dilincurkan di Thailand, tepatnya di Gedung Centara Grand Hotel, Rangkok, Rabu (27/10) lalu dan sudah resmi diperkenalkan di seluruh dunia. Petinggi Astra Honda Motor (AHM) mengatakan motor Honda terbaru ini sudah bisa dilihat di Jakarta Motorcycle Show (JMS) 2010 (3-7/11) di Jakarta Convention Center. Secara khusus, Johannes Loman sebagai Executive Vice President AHM mengatakan Honda CBR 250 R ini kemungkinan akan diluncurkan di Indonesia pada semester pertama 2011. Tentu saja spesifikasinya akan disesuaikan dengan pasar di Indonesia.

Yang dimaksud spesifikasi ini mungkin antara versi C-ABS (Combined Anti-lock Brake System) atau non C-ABS. Karena CBR ini disiapkan dalam dua jenis sistem pengereman itu. Di Thailand no C-ABS dipatok harga 100 ribu Bath atau Rp 30 jutaan, sedangkan yang C-ABS sekitar 120 ribu Bath atau sekitar Rp 36 jutaan.

Honda CBR 25 R ini mirip sekali denga Honda VFR 1200 R yang telah lama diluncurkan di dunia. dengan desain lampu Honda generasi terbaru yang hanya satu namun besar, berbeda dengan generasi sebelumnya yang dibuat dengan model terpisah. Tentu ini semua menyesuaikan tren yang sedang diminati oleh konsumen. Dilihat dari posisi setangnya, CBR ini memang disiapkan untuk harian, dengan setang jepit yang tidak terlalu rendah diharapkan konsumen tidak mengalami pegal jika dipakai untuk perjalanan jauh.

Desain keseluruhan seperti motor sport dunia lainnya. Yakni mengikuti paham buntut runcing namun besar di depan. Jika dilihat dari samping akan tampak sekali Honda CBR 250 R ini seksi dengan buntut yang runcing namun masih ada tempat untuk pembonceng yang tidak terlalu tinggi.

Di kelas 250 cc dia akan bertarung keras dengan Kawasaki Ninja 250 R yang telah lama beredar di Indonesia dan sudah memiliki penggemar dan klub yang cukup banyak. Akan tetapi, AHM tidak akan tinggal diam dengan senjata barunya ini. Dengan image Honda yang irit dan tangguh serta sudah diklaim sejak dahulu kala memiliki nilai jual kembali yang bagus maka penulis yakin Honda CBR 250 R akan bisa melampaui Ninja 25 R.

Berikut spesifikasi lengkapnya.

Mesin:
Tipe: 4 langkah, silinder tunggal DOHC 4 katup
Kapasitas: 249,4 cc
Diameter x langkah: 76mm x 55mm
Pengapian: Computer-controlled digital transistorized with electronic advance
Transmisi: 6-speed

Suspensi:
Depan: 37mm fork
Belakang: Pro-Link monoshock dengan 5 posisi pengaturan pra beban


Rem:
Depan: Cakram tunggal 296mm
Belakang: Cakram tunggal 220mm (ABS Optional)

Ban:
Depan: 110/70-17 radial
Belakang: 140/70-17 radial

Dimensi:
Jarak sumbu roda: 1.369 mm
Rake (Caster Angle): 25.0°
Trail: 95mm
Tinggi jok: 784,8 mm
Kapasitas tangki: 12,87 liter
Colors: Metallic Black, Red/Silver
Bobot kosong: 162,84 kg (standar)

oleh: tigor
dari berbagai sumber



Selasa, 25 November 2008

30 hp for Ninja 250


Standard power of Ninja 250 is 36 hp on 11.000 rpm. But the real power on the rear gear is reduced to 23,59 hp on 10.600 rpm, refers to Tomy Huang from Bintang Racing Team (BRT)’s test with dynotest. For a while, BRT produces four upgrading components for Ninja. They are CDI, jet kits, muffler, and ported valve and cylinder heads.

Kawasaki called their CDI for Ninja with TIS (Transistor Ignition System). The TIS especially produced by BRT is called i-DTIS (Intelligent Digital Ignition System). Tomy Huang used a hybrid transistor system for his TIS.

BRT’s i-DTIS is programmable until 30 steps (30 ignition spots on the specific rpm) and operated with remote control. Moreover, this TIS have system called dualband which means there are two curve options for riding in the straight lane or for rolling speed in the corner. The way to managed is only push the ON/OFF button on the left handle bar.

After the i-DTIS was installed and other parts were still standard, as a result the maximum power could be achieved was 24,81 hp. The difference is until 1,48 hp.

The next test is the installation of racing muffler and i-DTIS which have tested before. For example, BRT used R9 New Mugello. “The character is noisy on the low rpm but quite silent and smooth on the high rpm.” said Suar, the mechanic of BRT.

Following the test with Dynojet, the power raised quite high. In the last test the power is 24,81 hp and after the muffler installation lifted until 28.58 hp. The price of this Thailand’s muffler product is Rp. 2,2 million.

Dynojet Kits priced for about Rp. 1 million contained of main-jet, 2 needle-jets, and 8 bits. The needle jets are used for medium rpm gasoline set. And the bit is meant for enlarge the wind hole.

From the test using AFR (Air Fuel Ratio) the right main-jet is number 94 and 40 for the pilot-jet (from Keihin FCR) which we prepare before because it is not available in the Kits. The raising power after installing these devices is 0,59 hp or become 29,17 hp.

The process of porting for BRT has two secret weapons. First of all, Tomy Huang toke his study in Australia particularly for porting and BRT has the special tool named flowbench functioned for measure the gas on the cylinder.

The important porting in Ninja is on the valve stick. It should reduce or a half than the original size. The second one is the top end of the valve which shaped like an umbrella. For this part is made two corners 45 and 30 degrees with a tool called reface valve. The sitting valve is also rebuilt with sitting valve cutter. Thus, on the 11.700 rpm the power could be achieved is 30,43 hp.

Source: Motor Plus No. 508/IX